Perkenalan merupakan awal, akankah kita menjadi teman, sahabat, pasangan atau hanya lalu. Perkenalan tiap-tiap orang sungguh unik, begit pula denganku. Kala itu, aku baru saja mengunjungi kotamu untuk urusan perlombaan. Walau hasil lombanya tak baik dan aku pulang dengan perasaan kecewa tapi apa daya kita (aku dan anggota timku) hanya kurang beruntung. Lanjut saja ke cerita, malamnya ketika aku baru saja sampai dikotaku setelah perjalanan udara sekitar 2 jam lamanya. Aku membuka aplikasi L*N* dan mendapat permintaan berteman. Karena aku orang yang cenderung welcome dan yaudah kalau nanti aneh-aneh tinggal diblok, apa salahnya memulai pertemanan. Akhirnya aku setujui permintaan pertemanannya. Setelah aku terima, kita mengobrol disana. Ternyata dia berasal dari kota dimana aku mengikuti lomba. Aku baru ingat, saat di kamar hotel tempatku menginap untuk perlombaan tersebut, aku menyalakan L*N* Near sehingga orang di sekelilingku bisa menemukanku ketika dia menyalakan L*N* Near juga.
Lama kelamaan kita mengobrol banyak melalui aplikasi L*N* tersebut, sesekali kita telfonan dan videocall. Hingga dia mengatakan bahwa dia memiliki perasaan terhadapku setelah sekian lama dan dia tidak ingin menjalin hubungan yang serius karena usianya sekarang yang sudah bukan waktunya main-main. Jujur setelah sekian lama ngobrol, aku juga memiliki rasa yang sama. Akan teteapi, aku tahu, aku adalah tipikal cewe yang ketika udah sayang sama orang bakalan sayang banget dan ya ketika aku sudah benar-benar menyerahkan perasaanku untuknya aku bakalan susah untuk melepaskannya. Berhenti memikirkannya saja susah, apalagi melepaskannya. Satu bulan awal pendekatan kita sangatlah intens sampai-sampai satu haripun takpernah kita berhenti untuk saling menghubungi walau dengan pertanyaan yang simpel seperti udah makan belum, jangan telat makan ya, lagi dimana, dll...
Disisi lain, saat aku cukup dekat dengannya, teman dekatku yang dulu menghubungiku lagi dan mengatakan ingin bertemu. Ada angin apa tiba-tiba dia ingin bertemu?! Awalnya dia gombal dan bilang kangen saja ingin bertemu, tetapi lama kelamaan dia mengungkapkan bahwa ternyata dia ingin bertemu untuk meminjam uang padaku. Aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang mau-mau saja menjadi teman pelmpiasaan yang dicari ketika butuh saja. Im not a stupid people!. Dengan alasan yang dapat diterima, aku menolak ajakannya untuk bertemu.
Pekenalanku dengannya seolah-olah membukakan mataku bahwa, dia (teman dekatu yang dulu) memang tak baik untukku. Dahulu dia benar-benar memanfaatkan kebaikanku. Kini semuanya terbuka setelah sekian lama kita tak berkomunikasi lagi, dan kamun kembali menghubungiku untuk meminta bantuan. Hello, kemana aje lu selama ini?! Berteman bukanlah seperti ini, kembali ketika membutuhkan dan melupakan ketika senang.
Next--> Lanjutan cerita perkenalan
Komentar
Posting Komentar